Casual Talk

Consolidating Collectives & Cooperatives

“… the more relevant drivers that cause many communities to unravel sound more like the challenges afflicting any organisation today: capital constraints, burn-out, conflict over private property and resource management, poor systems of conflict mediation, factionalism, founder problems, reputation management, skills shortage, and failure to attract new talent or entice subsequent generations.”
—Utopia Inc.

Komunitas, kolektif, koperasi, platform, dan sebagainya: ada sangat banyak istilah, bentuk organisasi, dengan berbagai sistem koordinasi, pembagian sumber daya, swadaya “community self-help” atau gotong royong “mutual cooperation” yang telah tumbuh berkembang — dan bermutasi ataupun mati — di Indonesia, dan di seluruh dunia. Seringkali, pembentukan kolektif dan ko(o)perasi ini didorong oleh semangat mencari alternatif sistem ekonomi atau menciptakan jaring pengaman kolektif, sistem demokrasi langsung dan penolakan terhadap hirarki vertikal.

Namun kolektif ataupun ko(o)perasi yang dikelola secara kolektif tidak niscaya berarti lebih mumpuni ataupun adil. Pun, sistem yang dapat berjalan dengan baik dengan anggota di bawah 20 orang dan sangat mengandalkan ketemuan tatap muka menjadi semakin sulit berjalan ketika beroperasi dalam skala yang lebih besar dan melibatkan publik yang lebih luas. Bahkan dengan bantuan dana hibah, semangat gotong royong timbal balik di antara anggotanya, kesehatan ekonomi yang  menopang “tinggi mutu ideologi dan tinggi artistik” yang (ingin) diusung oleh organisasi, sangat bergantung pada kapital sosio-ekonomi — dan terutama, kapital waktu — individu anggotanya. Begitu pula, ada tantangan dari sekitar dengan peningkatan pemantauan (surveillance), gentrifikasi, privatisasi, ketimpangan sosial ekonomi dan berbagai lilitan tuntutan bertahan hidup.

Dalam panel ini, kita akan menyimak berbagai contoh percobaan pembentukan dan penguatan organisasi. Pembicara membawakan contoh kasus dengan variasi periode sejarah dan lokalitas untuk mendorong pencampuran gagasan kemungkinan-kemungkinan emansipatif inter-lokal di luar tempurung zona nyaman kita: Antariksa, salah satu pendiri KUNCI Cultural Studies Center, yang telah bertahun-tahun mengkaji kolektif dan pendidikan seni di Indonesia, penulis Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa dan Lekra 1950-1965 dan Art Collectivism in the Japanese-occupied Indonesia, akan mempresentasikan penelitiannya mengenai kolektif seni di Jepang pada zaman perang. Hizkia Yosias Polimpung, peneliti di Koperasi Riset Purusha, editor jurnal IndoProgress, akan berbagi mengenai eksperimentasi bentuk organisasi kooperatif “Tuan-tuan tanpa Kepala”. Dengan penanggap Fictor Ferdinand dan Veronica Ajeng Larasati dari Koperasi Ura2, koperasi pendidikan yang dirintis untuk menyelenggarakan alternatif kegiatan pendidikan secara kolektif, progresif, dan selaras dengan semesta, dan moderator kathleen azali (PERIN+1S – C2O).