Casual Talk

Inter glo-cal representations

Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan Indonesia tampil di berbagai arena seni dan budaya internasional. Para desainer, seniman, budayawan, dan pegiat lintas bidang yang diberangkatkan ke pentas dunia ini mau tak mau melakukan fungsi “soft power diplomacy” diantara misi-misi lain mereka. Masing-masing personil ini tentu memiliki perbedaan latar belakang berikut modal dan kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi yang bervariasi meski semua mewakili Indonesia.

  • Apa saja kendala, dan tantangan para “diplomat budaya” ini saat membawa gagasan dan karya yang mewakili Indonesia?
  • Apa kiat-kiat mereka untuk mendapat posisi dan daya tawar yang unik ditengah potensi “culture shock” akibat perbedaaan latar belakang, parameter, dan cara pandang dalam pergaulan “kekinian global” ?
  • Yang tak kalah penting, apa keuntungan dan tambahan modal yang bisa dibawa mudik ke kampung halaman?
  • Meskipun malang melintangnya berbagai tokoh seniman, desainer, budaya Indonesia di kancah internasional bukanlah hal yang baru, tapi apa yang berubah, dan apa yang terus berlanjut, di era yang dikatakan terus dan/atau makin terhubung ini: dengan penyebaran teknologi internet, budget flight, dan pertumbuhan berbagai organisasi dan jejaring budaya?

Dalam sesi ini, kita mendengarkan paparan dari Alia Swastika, Mohammad Cahyo, Lim Masulin (BYO Living), dan Leonhard Bartholomeus (ruangrupa). Dengan penanggap Grace Samboh dan moderator Andriew Budiman.