Casual Talk

Rethinking Work and Labour in Digital Age

Social media strategist yang harus mengatur manajemen uploading dan editing foto dan video ke media sosial, clickwork yang dilakukan di komputer maupun telpon di luar kantor, menulis dan menyunting artikel di situs web atau blog, menerima permintaan on-demand untuk antar jemput dengan kendaraan sendiri, kirim barang, makanan, maupun jasa pijat, cleaning, dan sebagainya… bagaimana kita—khususnya yang terlibat dalam kerja-kerja desain, industri kreatif dan media—memahami kompleksitas relasi kerja dan isu ketenagakerjaan di era digital? Bagaimana supaya otomatisasi dan segala kemudahan yang dijanjikan teknologi digital memberi kesejahteraan untuk semua orang, bukan sekedar segelintir dan meminggirkan yang lain?

Berikut beberapa pertanyaan pemantik:

  • Seringkali orang tidak menyadari ongkos-ongkos yang harus ia bayar dan kelemahan posisinya secara sosioekonomi maupun legal, sampai akhirnya terkena kasus. Apa saja contoh kasus PHK, free pitching, kerja tak dibayar ataupun diupah murah, dsb. yang banyak mengancam pekerja industri kreatif, desain, media?
  • Apa saja regulasi dan kebijakan yang perlu dicermati kekurangannya dalam mengakomodasi dan melindungi pekerja?
  • Pembuaian melalui istilah manis (seperti pegawai, karyawan, profesional, hingga entrepreneur, creativepreneur, technopreneur, sociopreneur, kolaborator, dsb.) daripada yang istilah lebih politis seperti buruh atau pekerja, bukannya baru terjadi di era digital. Kerja on-demand, ketiadaan atau ketidakjelasan kontrak, “menjadi bos dan buruh di pabrik sendiri”, tidak hanya terjadi dalam industri yang bersentuhan langsung dengan teknologi digital, tapi banyak terjadi di sektor lain: dalam industri mikro—yang membentuk hampir 99% ekonomi Indonesia—pun industri besar seperti perkebunan. Apa yang “sama tapi tak sama” dengan pekerja lainnya?
  • Apa saja taktik dan strategi yang dapat dibangun? Misalnya, bagaimana taktik klasik pemogokan untuk mengganggu proses produksi dapat dilakukan oleh pekerja digital yang alat produksinya biasanya dimiliki sendiri dan tersebar di berbagai penjuru?
  • Bagaimana agar isu-isu ketenagakerjaan ini dapat meluas dengan lebih besar dan inklusif, tidak hanya terbatas pada berbagai lingkaran fragmentasi kawan-kawan aktivis yang “sudah melek” atau preaching the converts? Apa yang dapat dilakukan secara informal maupun institusional (misal, perubahan regulasi) untuk lebih mendorong isu ketenagakerjaan ini ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi? Mengingat potensi institusi pendidkan sebagai jaringan terbesar pabrik (de)politisasi, pelatihan ideologi maupun eksploitasi, juga penyedia “surplus pekerja” dan “darah muda”?

Panel ini menghadirkan Ellena Ekarahendy, ketua Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI); Hizkia Yosias Polimpung, peneliti di Koperasi Riset Purusha dan editor Jurnal IndoProgress;  Irawan Bejo (JOS Driver Online); Andreas Adiel, ketua Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Surabaya; Alexandra Crosby dan Luke Bacon yang terlibat dalam program Digital Work Practices. Dengan moderator Miftah Faridl, ketua Aliansi Jurnalis Independen Surabaya.

Foto dari demonstrasi SINDIKASI pada hari May Day 2017.