Casual Talk

Women in art, design, and technology

“Women is better painted, not as a painter.”
— Basoeki Abdullah

“Do Women Have To Be Naked To Get Into the Met. Museum?
Less than 5% of the artists in the Modern Art Sections are women, but 85% of the nudes are female.”
— Guerilla Girls, 1989

Dalam sekitar satu dasawarsa terakhir, kita menyaksikan makin meningkat dan menonjolnya gerakan perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di berbagai pelosok dunia. Namun bagaimanapun, kita masih sangat jauh dari berbagai cita-citanya. Komentar seperti: “Ya gimana kalau perempuan yang mampu menjadi [. . . .] emang nggak ada,” masih sering kita dengar. Ada banyak dilema dan ketimpangan yang dihadapi. Dalam panel ini, kita akan membahas berbagai kerumitan peran, tantangan, dan representasi perempuan, khususnya dalam kerja-kerja desain, seni, dan teknologi.

Beberapa poin yang dapat dibahas antara lain:

  1. Bagaimanakah gender perempuan dikonstruksikan? Seringkali laki-laki dilekatkan dengan kepemimpinan, logika, rasionalitas dan kecakapan teknologi, serta penciptaan komoditas dengan nilai tukar dalam pasar. Sementara perempuan acapkali dipandang “alamiah” atau “kodrat” melakukan kerja-kerja “feminin” yang melayani, ngemong, emosional, berkaitan dengan servis, dapur-kasur-sumur.
  2. Seringkali juga kerja-kerja ini dinilai rendah atau bahkan tak perlu dibayar, tak ada nilai tukar, karena dianggap sudah wajib dan perlu dilakukan perempuan sebagai “naluri alamiah”, atau karena ini adalah “passion”.
  3. Bagaimanakah narasi serupa menjadi berlipat ganda di ranah seni, desain, dan teknologi (digital)?
  4. Bagaimana perempuan dilihat sebagai objek gairah dan bukan subjek yang berkapasitas? Serta berbagai resiko dan ancaman pelecehan maupun kekerasan seksual?
  5. Meskipun sudah mulai banyak pihak yang melakukan advokasi melawan pelecehan dan kekerasan seksual, ada banyak rintangan dalam pembuktian dan penyelesaiannya. Seringkali, pembuktian dan penyelesaiannya membutuhkan ongkos (sosial, finansial, mental) yang sangat mahal dan kompleks. Misalnya: alienasi dari komunitas, lingkungan kerja, ataupun keluarga sendiri, dsb. Pun, akses bantuan ini juga sangat tidak merata. Apa saja inisiatif yang dapat dilakukan untuk mengarungi tantangan-tantangan ini? Bagaimanakah pihak-pihak dengan kapasitas besar seperti lembaga donor maupun program studi internasional mempengaruhi dinamika gerakan perempuan?

Panel ini melibatkan Ratu Fitri (Surabaya Sehat dan Arek Feminis), Poedjiati Tan (Konde.co), Cecil Mariani (juri Cipta Media Ekspresi 2018, Arisan Desainer Upacita), dan Angga Wijaya (Serrum, kurator Wani Ditata).